Sabtu, 05 April 2014

cerita ran-chan6 : perpisahan

"Jadi.. Itu sebabnya kakak kelihatan kecewa kepadamu?!?!" Kata echika yang sedang panik memikirkan masalah ini.
"Ya... Padahal... Aku... Aku kan su-su-suka dengan kak heiro..." Aku menundukan kepala dengan malu.
"Akhirnya, ran-chan... Kau tahu perasaanmu sesungguhnya..."Kata echika dengan tersenyum memandangku.
"E-em.. Aku tidak mau kak heiro jadi benci padaku..." Aku hampir mau menanggis melihat semua kejadian yang kualami, dan echika langsung menepuk bahuku dengan lembut.
"Sudahlah ran-chan, bagaimana kalau kamu bicarakan semua kesalah pahaman yang terjadi itu kepada kakak? Kakak pasti mau mendengarkan alasan ran-chan kok..."
Dengan senyuman tulus echika aku memberanikan diri untuk berbicara dengan kak heiro soal kesalah pahaman ini.
"Iya...aku akan berusaha..."
"Nah gitu dong!ini baru yang namanya ran-chan! Harus berani!" Kata echika menyemangatiku.
"Terima kasih ya echika, aku pasti akan berusaha..." aku tersenyum dan bersyukur sekali mempunyai teman seperti echika yang selalu mendukungku

Sewaktu pulang sekolah, aku menunggu dipintu gerbang sekolahku untuk menunggu kak heiro. Tak berapa lama kak heiro datang bersama kak ritsu dan melihatku.
"Kak... Kak... A-aku mau bicara..." Teriakku memberanikan diri, tetapi kak heiro pura- pura tidak tahu dan melewatiku saja tanpa bicara apapun.
'Ini memang salahku.... Pada akhirnya kak heiro tak mau lagi mempedulikan ku' kataku dalam hati sambil berjalan pulang kerumahku...

"Loh? Tadi kan ran-chan memanggilmu? Kenapa tidak jawab?" Tanya ritsu kepada heiro.
"Biarkan saja lah dia... Aku tak punya urusan lagi dengannya." kata heiro dengan datar. "Ada masalah apa sih heiro-kun?" Tanya ritsu dengan penasaran,
"Tidak ada apa-apa kok.. Sudahlah aku malas membicarakan soal itu lagi." Kata heiro dengan kesal sambil berjalan dengan sedikit cepat. "Akhirnya... Tanpa perlu rencana lagi. Heiro-kun sudah membenci ran-chan..!yes!" Bisik ritsu dalam hati.
"Kenapa kamu senyum- senyum sendiri ritsu?" Kata heiro keheranan melihat ritsu.
"E-enggak ada kok, hehehehe..." Jawab ritsu dengan senyum.

"Maa.... Aku pulaang" teriakku dari luar rumah. "Waahh ran-chan sudah pulang ya..." Kata mama dengan senyum yang hangat.
"Hehehe.. Iya ma.Ma.. Mama masak apa hari ni?" Kataku sambil memasuki ruang dapur.
"Taaraaanngg!!! Mama  masak makanan kesukaanmu sop kare!" kata mamaku dengan penuh semanggat sambil menyodorkan ku sop kare.
"Asiiikkk.... Sop karee!!" Aku segera duduk dikursi makan, "itadakimasu~" *selamat makan* dengan lahap aku memakan semua sop kare itu, sekalian menghilangkan masalahku itu.


Esok paginya, *pip... Pip.... Pip.... Pip..* "aduuhh.... Masih ngantuk tau! Berisik deh!" Aku mematikan alaram jam yang berbentuk love dan melanjutkan tidur.
Tak beberapa lama.... "Ran-chan!!! Ran-chan!!! Ran-chan ayo banguunn!!! Udah siang nihh!!!" Teriak seseorang yang membangunkan ku.
"Emm.... Sekarang jam berapa ya?" Kataku sambil menggusapkan mataku yang masih pingin tidur.
"Aduhh!!! Sekarang sudah setengah 7 ran-chan!" Teriak mamaku dengan panik yang langsung menyadarkanku. "APA!!!! JAM SETENGAH 7!!!" Aku berlari langsung kekamar mandi dan memakai seragam sekolahku dengan cepat, dan langsung berlari menuju sekolah tanpa sarapan.
"Aduuhh gawaatt deh!! Ketiduran!! Kukira masih malam!!" *ngawur toh!* aku berlari dengan kencang yang kecepatannya  setara dengan pelari- pelari internasional *hehehe* terdengar lonceng sekolah ku yang bertanda sudah waktunya memulai pelajaran.
"Aaaaahh!!!! Jangaann!!!!! Tunggu sebentar!!!" Aku berlari terus tanpa memedulikan yang lain sampai menuju kelas.
Untung saja gurunya belum datang, aku menaruh tasku dibangku. "Eh! Ran-chan! Kok tumben banget kamu telat! Datangnya lebih telat dariku lagi..." Tanya echika dengan heran. "I-iya..i-iya....ta.. Tadi... Ketiduran..." Kataku sambil mengatur napas setelah berlari tadi.
"Hahahaha...kamu ini! Bagaimana kemarin? Sudah menjelaskannya?" Tanya echika menganti topik. "Maaf, kemarin kak heiro tidak memedulikan ku dan langsung berlalu pulang bersama kak ritsu..." Kataku sedih dan tak bisa berkata lagi memandang kejadian kemarin. Apakah aku telah dibencinya?dan ini perpisahannya? Padahal aku baru saja suka dan ingin lebih mengenal kak heiro.
"Tenang saja! Jangan sedih! Nih, aku sudah susun beberapa rencana untuk itu!" Kata echika sambil mengeluarkan sebuah kertas yang berisi rencana-rencana aneh yang disusunnya.
"Hmm... Berarti kita memasuki rencana ke-2, yaitu memanggilnya langsung didepan kelasnya." Kata echika sambil melihat kertas itu.
"Apa mungkin kak heiro mau bicara kalau aku langsung ke kelasnya?" Tanya ku ragu.
"Wah! Kamu meragukan rencana superku ya! Dijamin deh! 10 rencana ini pasti bisa! Hohohoho...." Kata echika dengan bangganya akan rencana anehnya.
"Baiklah aku akan mencobanya. Nanti waktu istirahat aku akan kesana bersamamu." Kataku dengan pelan.
"Okeh deh!tenang saja pasti ku bantu kok"
Kata echika memastikanku.


Sehabis pelajaran killer yaitu matematika, bunyi lonceng pun berdentang tanda 'istirahat', aku dan echika berjalan menuju kelas kak heiro.
"Apa ada kak heiro ya kak?" Kataku kepada salah satu murid dikelas itu.
"Hm.. Ada, tunggu ya .. Aku akan memanggilnya" seorang laki-laki yang tak kukenal itu memanggil kak heiro, dan kak heiro menuju ke luar kelas. 'Wah, mungkin kali ini bakalan berhasil' kataku dalam hati. "Ada apa ran-chan?" Kata kak heiro dengan datar. "A-anu.. Bisa kita bicara sebentar saja mengenai kemarin?" Aku memberanikan diri untuk bicara kepadanya tapi... "Maaf ya.. Aku ada urusan lain, aku tak punya waktu dengan hal yang begituan. Kamu kan sudah ada tetsu.. Jangan mendekatiku. Ntar cowok mu marah..." Kata kak heiro dengan datar sambil berlalu pergi keluar kelas.

aku langsung terdiam memandang sosok kak heiro yang berlalu pergi. "Te-te-tenang saja ya.... Ma-masih ada rencana ke3 kok.. He..he..he..." Kata echika sambil menarikku kekelas dengan tangannya yang gemetaran.
"Maaf echika, sepertinya memang tak ada lagi yang harus kuucapkan kepadanya.." Kataku pelan dan memasang raut muka yang hampir menanggis, ini sudah diluar dugaanku. Aku tak menyangka kak heiro bisa berbicara begitu kepadaku.
"Su-sudah lah ran-chan! Jangan pedulikan omongannya ya...." Kata echika yang menyemangati ku dengan senyuman kesedihannya.

"Kenapa... Kenapa kamu selalu saja mau membantuku? Padahal kamu sampai ketakutan melihat kejadian ini..." Kataku sambil memandang echika.
"Aku membantu mu bukan karna masalah mu,bukan karna kebaikan ku! Tapi aku membantu mu sebagai teman, walau kamu mengangapku sebagai teman biasa, walau kamu mengangapku bukan sahabat.... Aku rela... Aku rela menemani mu, aku rela menghabiskan waktuku bersamamu asalkan kamu senang... Aku..." Kata-kata echika terhenti sambil meneteskan air matanya.
Dengan mataku yang berkaca-kaca aku memeluk echika dengan erat.
"Maafkan aku yang tidak mengerti perasaan mu ini echika.. Aku memang sangat egois yang hanya memikirkan masalahku  sendiri" aku pun juga ikut menanggis bersama echika.
"Echika.... Aku selalu menganggap mu sahabat sejati ku kok... Aku selalu sayang padamu... Maafkan atas keegoisan ku ini ya..." Kataku dengan lembut kepada echika.
"Nah! Sudah deh sedih-sedihnya! Kembali ke pokok masalah! Kita akan jalankan rencana 3, disini aku sebagai adik yang akan menanyakannya langsung!" Kata echika yang langsung semangat sambil mengepalkan tangannya.
"Kamu memang aneh echika....." Kataku dengan kebinggungan, baru saja galau.
"Bagaimana? Sewaktu pulang akan ku tanyakan habis- habisan kepada kakak ku yang super sombong itu! Hohohoho" kata echika berapi- api penuh semangat. Aku hanya menggelengkan kepala dan berkata dalam hati 'kenapa ceritanya jadi begini?'


Bersambung..

Jangan lewatkan ya di cerita ran-chan yang ke-7!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar